Kamis, 21 Februari 2013

SYOK

              Merupakan suatu keadaan yang mencerminkan ketidakadekuatan perfusi dan oksigenasi jaringan yang akan menyebabkan hipoksia jaringan.
Sirkulasi darah ditentukan oleh 3 hal:
1. Jantung: sebagai pompa--- cardiac output = HRX SV
2. Pembuluh darah
3. Volume darah

Krisis sirkulasi/ shock dari penyebab/ patofisiologinya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Syok hipovolemik
Hal yang terganggu adalah volume, seperti pada muntaber atau perdarahan, terapi utamanya ditujukan pada penggantian cairan.
2. Syok kardiogenik
Penurunan daya pompa jantung, terapinya byaitu menggunakan obat-obatan inotropik, antiaritmia.
3. Syok ditributif,
pada keadaan anafilaktik, septik, cedera spinal. Terapinya ditujukan pada pengembalian tonus yaitu dengan obat-obatan vasoaktif dan oksigenasi.
4. Syok obstrukstif
Pada tension pneumothoraks

TRANFUSI

              Tranfusi merupakan salah satu terapi medik yang harus rasional, mengapa harus rasional?? karena tindakan ini merupakan terapi medik yang memiliki banyak penyulit. Terapi ini merupakan terapi utama untuk menyelamatkan jiwa, akan tetapi dapat pula sebaliknya. 
TATA CARA TRANFUSI
1. Infuse NaCl 0,9%, menggunakan jarum besar 18-19 G
2. Kantong darah dari lemari es jangan diguncang, jika lapisan plasma diatas berwarna coklat hitam, maka telah terjadi hemolisis, jangan diberikan.
3. Sebelum mulai tranfusi hendaknya kita mengukur tanda vital pasien seperti tekanan darah, nadi, resprasi rate, dan suhu
4. Darah diteteskan pelan, hendaknya untuk 100 cc pertama jangan lebih dari 10 menit. 
5. Pada saat 15 ment pertama, harus ditunggui di depan pasien, karena pada 15 menit pertama ada kemungkinan untuk terjadi reaksi mayor, maka awasi keluhan, tekanan darah, nadi, mafas, suhu, adakah rasa gatal, sesak nafas, demam, mual, nyeri pinggang, 
6. Evaluasi dan pengukuran ini dilanujutkan tiap jam sampai 2 jam post tranfusi
7. Setiap selesai tranfusi 1 unit, infus set dibilas dengan menggunakan NaCl sebelum tranfusi selanjutnya.
8. Pakai macrofilter 170 micron untuk menyaring gumpalan / microaggregates yang terbentuk selama penyimpanan
9. Pada transfusi masif pakai microfilter 20 micron untuk menyaring mikro-emboli untuk prevensi “Adult Respiratory Distress Syndrome”
10. Jika jantung baik dan tidak ada hipovolemia, batas aman transfusi adalah 1 ml/kg/jam (1 unit dalam + 3 jam) atau 1000 ml per 24 jam
11. Satu unit jangan lebih lama dari 5 jam agar tidak tumbuh kuman selama darah berada dalam suhu ruangan
12. Tidak perlu obat antihistamin, antipiretika atau diuretika sebelum transfusi kecuali ada indikasi khusus
13. Obat premedikasi mungkin menutupi tanda-tanda-awal reaksi transfusi yang lebih berbahaya

REAKSI TRANFUSI
1. Jika ada gejala atau keluhan ke arah Reaksi Transfusi, transfusi HARUS SEGERA DIHENTIKAN
2. Infus set diganti set baru, berikan NaCl 0.9%
3. Ukur tekanan darah, nadi dan suhu
4. Hipotensi sistolik < 90 mmHg memerlukan ephedrin i.v atau dopamin drip dan atau adrenalin 0.01-0.3 mg i.v
5. Perhatikan produksi dan warna urine
6. Urine yang berkurang atau berhenti atau warnanya menjadi merah gelap menandakan reaksi hemolitik

Karena tranfusi itu sangat penting untuk keadaan2 tertentu, akan tetapi juga mempunyai risiko tinggi juga... maka tranfusi hendaknya sesuai dengan indikasi


Rabu, 20 Februari 2013

OBAT-OBAT EMERGENCY PADA ANASTESI

Bimillahirrahmanirrahim....               
           Tadi siang baru saja tentiran tentang obat-obatan emergency anastesi... bersama dr.Wiwik, Sp.An... selain itu obat-obat ini juga perlu dan penting kita persiapkan saat kita praktek nanti dimanapun itu... untuk menangani kasus-kasus yang sifatnya emergency...
Tapi syaratnya... harus tepat dalam pemakaiannya.. agar tidak terjadi sebaliknya... niatnya menolong tapi justru sebaliknya... na'udzubillah....
Obat-obat ini terdiri dari:
1. Adrenalin/ Epinefrin
Epinefrin ini merupakan hormon yang sebenarnya uda disintesis sendiri oleh tubuh yaitu oleh kelenjar suprarenalis bagian medula, akan tetapi pada keadaan2 tertentu membutuhkan epinefrin sintesis.
Kemasannya adalah ampul 1mg/cc. Adrenalin sangat berguna pada pasien dengan syok anafilaktik yang ditandai bronkospasme atau eksaserbasi asma yang hebat; dengan dosis 0,3-0,5mg =  0,3-0,5 ml adrenalin 1:1000; pada anak-anak dosisnya 0,01mg/kgBB. Di evaluasi tiap 5 menit, pemberian epinefrin dapat diulangi 3 kali. Kemudian jika sudah diulang 3 kali tapi tidak ada respon/ asistole maka lihat pupil, jika sudah dilatasi maksimal maka usaha dihentikan. Tapi jika miosis maka lanjutkan dengan VTP dan RJP, jika sudah muncul tensi tapi masih rendah maka dapat dilanjutkan dengan obat-obatan inotropik lain.
2. Efedrin
Kemasannya adalah ampul 50mg/cc, digunakan dalam bentuk larutan 1%. Fungsinya adalah untuk meningkatkan tensi pada hipotensi yang tidak disebabkan oleh karena kekurangan volume intravaskuler.
3. Sulfas Atropin.
Kemasannya adalah 0,25 mg/cc. Digunakan untuk bradikardi yanv disebabkan oleh karena stimulas vagal, misalnya pada rangsang omentum, operasi urogenital.
4. Aminofilin
Obat-obatan anastesi seperti Pentotal, pRopofol, muscle relaksan, dapat menginduksi asma attack. Hal ini yang paling ditakutkan pada tindakan anastesi, karena pada asma attack yang terganggu adalah fase ekspirasinya, sedangkan pada intubasi yang dibantu adalah inspirasinya sedangkan untuk ekspirasi menggunakan spontanitas dari pasien. Sehingga aminofilin sangat dibutuhkan pada keadaan ini.
5. Antihistamin
6. Steroid
7. Furosemid
Pada tindakan anastesi furosemid sangat dibutuhkan pada keadaan dimana pasien banyak sekali kehilangan darah dan darah belum tersedia, sehingga kita menggantinya dengan menggunakan cairan dahulu, kemudian pada saat darah sudah tersedia maka kita mencegah terjadinya overload cairan yang sudah masuk tadi dengan menggunakan furosemid dengan dosis 5mg/kgbb.
8. Diazepam/ Midazolam
9. Natrium Bicarbonat, digunakan pada saat pasien dengan asidosis metabolik' yang harus diperhatikan pada injeksi natrium bicarbonat adalah aliran darahnya lancar, karena jika terjadi ekstravasasi maka akan menyebabkan nekrosis jaringan. Hati-hati juga pemberian natrium bicarbonat karena akan menarik kalium dari dalam vaskuler yang akan menyebabkan hipokalemia.
10. Antispasmodic
Sangat berguna pasien dengan kolik, baik kolik karena urolitiasis, kolelitiasis, dsb.

bersambung... insyaAllah...^_^


Senin, 18 Februari 2013

Anastesi

 Bismillahirrahmanirrahim...
            Tak terasa waktu ternyata cepat sekali berlalu... dan sekarang sudah menginjak stase berikutnya yaitu stase anastesi... saat memulai tulisan ini saya sudah menjalani stase ini 4 hari... dan menurut saya stase ini stase yang menyenangkan...bagaimana tidak... oleh guru kami di anastesi kami diajari untuk disiplin dalam segala hal... harus cekatan dalam bertindak, meningkatkan ilmu pengetahuan dan skill... harus dapat mempertanggungjawabkan segala tindakannya... harus benar-benar dalam belajar.. harus tahu dulu ilmunya agar benar dalam pengaplikasianya dan mempertanggungjawabkan semua atas tindakannya...keren dah pokoknya...^_^

Persiapan Pra Anastesia

         Pasien-pasien yang akan dilakukan tindakan anastesi atau pembedahan baik yang elektif maupun darurat hendaknya dipersiapkan dengan baik, karena keberhasilan dari tindakan anastesi dan pembedahan sangat dipengaruhi oleh preoperasi yang setidaknya dilaksanakan 1-2 hari sebelum operasi pada pembedahan elektif, sedangkan pada pembedahan darurat maka tindakan ini memiliki waktu yang singkat, yang tujuannya adalah:
- Mempersiapakan mental dan fisik pasien secara optimal dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan lain.
- Pemilihan teknik tindakan dan obat anastesi yang sesuai dengan keadaan fisik dan kehendak pasien. Untuk meminimalkan komplikasi
- Menentukan klasifikasi pasien menurut ASA sesuai hasil pemeriksaan fisik untuk mendapatkan gambaran prognosis pasien secara umum.
Tindakan pre operasi ini meliputi:
- Anamnesis, untuk mengetahui segala riwayat pasien, riwayat penyakit terdahulu, riwayat alergi, riwayat pembedahan sebelumnya.
- Pemeriksaan fisik; pemeriksaan fisik disini disesuaikan dengan pemeriksaan sistem secara legeartis. Teliti semua hasil laboratorium, dan mungkin perlu pemeriksaan laboratorium tambahan.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik serta laboratorium maka dapat ditentukan status fisik pasien dan penilaian terhadap risiko pasien terhadap anastesia.

I. PERSIAPAN MENTAL DAN FISIK PASIEN
Anamnesis
- Seperti biasanya anamnesis diawali dengan menanyakan nama, umur, alamat, pekerjan (Identitas Pasien)
- Riwayat anestesi dan operasi sebelumnya.
- Riwayat penyakit sistemik (diabetes melitus, hipertensi, kardiovaskuler, TB, asma)
- Pemakaian obat tertentu, seperti antidiabetik, antikoagulan, kortikosteroid, antihipertensi secara teratur.         Dua obat terakhir harus diteruskan selama operasi dan anestesi, sedangkan obat yang lain harus                    dimodifikasi.
- Riwayat diet (kapan makan atau minum terakhir. jelaskan perlunya puasa sebelum operasi)
- Kebiasaan-kebiasaan pasien (perokok berat, pemakai alkohol atau obat-obatan)
- Riwayat penyakit keluarga

Pemeriksaan Fisik

Minggu, 17 Februari 2013

TERAPI CAIRAN

Dalam anastesi atau perioperatif kita mengenal ada 3 macam jenis terapi cairan menurut waktunya:
1. Terapi cairan pre operasi
2. Terapi cairan pada saat pembedahan
3. Terapi cairan post operasi
         Terapi cairan disini meliputi penggantian kehilangan cairan, memenuhi kebutuhan air, elektrolit, dan nutrisi untuk membantu tubuh mendapatkan kembali keseimbangan normal dan pulihnya perfusi jaringan serta oksigenasi sel, untuk mencegah terjadinya iskemia jaringan maupun kegagalan fungsi organ.
          Dalam pemberian cairan pada pasien perioperatif, kita harus memperhitungkan kebutuhan cairan basal, penyakit yang menyertai, medikasi, teknik dan obat anestetik serta kehilangan cairan akibat pembedahan.
          Sebelum kita membahas bagaimana  terapi cairan pada perioperatif kita bahas dahulu mengenai fisiologi cairan tubuh ya...

FISIOLOGI CAIRAN TUBUH MANUSIA

Rabu, 06 Februari 2013

PEMERIKSAAN FISIK NEUROLOGI KLINIS

           Nah... sekarang kita bahas mengenai pemeriksaan neurologi klinis ya... di neurologi memang terkenal dengan jenis pemeriksaannya yang banyak.. dan saya sempat stress dengan semua ini... hiks... hehe...*kumat alaaaayyyy..... 
           Ngomong-ngomong tentang pemeriksaan fisik neurologi saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya saat ujian pemeriksaan fisik neurologi... masih sangat jelas dalam ingatan saya... waktu itu saya sangat tidak menyangka akan ujian hari itu...karena saya mendapat urutan terakhir untuk ujian.. dan karena kemarin yang di uji satu orang.. jadi saya pikir sehari yang ujian hanya satu orang... jadi dari pagi saya nyantai banget dan malamnyapun juga tidak begitu belajar untuk persiapan ujian karena memang malam harinya saya jaga ruangan... akan tetapi tiba2 saya dihubungi oleh teman2 yang dibangsal untuk segera ke ruangan karena akan di uji... haaah.. kebayang bagaimana pikiran saya waktu itu... saya langsung mempersiapkan alat-alat yang diperlukan untuk ujian... untung saja saya punya teman2 yang sangat baik yang membantu untuk mempersiapkan alat dan bahan ujian.. mulai dari air panas, air dingin, dan sebagainya.. terimakasih ya teman2....*terharu...T_T (terimakasih banyak ya... Rizal, dwita, farrah, hadid, mirna, mas tingto, mas dedi, mb nja)
             Naahhh... hikmahnya adalah... jangan berspekulasi dengan anggapan2 kamu sendiri yang tidak terjamin kebenarannya... saat musim ujian tiba hendaknya kita selalu siap.. meski urutan terakhir jangan disepelekan!!! semua dapat terjadi diluar dugaan kita... hehe... semoga kita semua sukses dalam menghadapi setiap ujian apapun... amiiinnn.... SEMANGKAAAA....^,^
Sekarang kita mulai bahas tentang pemeriksaan fisik di bidang neurologi ya... tentunya sebelumnya kita juga melakukan pemeriksaan status interna secara singkat... oh iyaaa... tentunya disini kita juga udah siapin alat dan bahan untuk pemeriksaan...

I. KEADAAN UMUM
A. KESADARAN yaitu merupakan suatu keadaan yang mencerminkan pengintegrasian impuls aferen dan eferen.
Kesadaran disini meliputi dua aspek:
1. Aspek psikiatrik : berhubungan dengan perubahan kesadaran
2. Aspek neurologi : berhubungan dengan penurunan kesadaran

Pada aspek neurologi kita dapat memeriksa kesadaran secara kualitatif dan kuantitatif; secara kualitatif kita mengenal beberapa istilah seperti berikut:
1. Komposmentis:
- Kesadaran normal
- Menyadari seluruh asupan panca indera dan bereaksi secara optimal terhadap seluruh rangsang baik dalam maupun luar
2. Somnolen/drowsiness
- Mengantuk
- Mata tampak cenderung menutup
- Masih dapat dibangunkan dengan perintah
- Masih dapat menjawab pertanyaan meskipun sedikit bingung
- Tampak gelisah
- Orientasi terhadap sekitar menurun
3. Stupor atau sopor
- Lebih rendah dari somnolen
- Mata tertutup
- Dengan ran gsang nyeri atau suara keras baru mau membuka
- Bersuara satu-dua kata
- Motorik ~ menghindar terhadap nyeri
4. Semi koma
- Mata tetap tertutup ~ dengan nyeri yang kuat
- Hanya mengerang tanpa arti
- Motorik ~ gerakan primitif
5. Koma
- Penurunan kesadaran paling rendah
- Dengan rangsang apapun – reaksBlogger adalah alat penerbitan blog gratis dari Google untuk memudahkan Anda bertukar pikiran dengan dunia. Blogger membuat Anda mudah mengirim teks, foto dan video ke blog pribadi atau tim Anda.i sama sekali tidak ada

             Kemudian secara kualitatif kita dapat memeriksa kesadaran dengan menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale), yang dapat diperiksa melalui respon mata, verbal, dan motorik terhadap suatu rangsangan.